bila kita membahasa konsep pertumbuhan ekonomi sebenarnya berkaitan dengan proses peningkatan output secara konstan dalam jangka panjang. dalam pengertian yang lain pertumbuhan ekonomi juga didefinisikan sebagi proses di mana terjadi kenaikan pdb riil. dalam pengertian ini perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. output total riil suatu perekonomian bisa juga tetap konstan atau mengalami penurunan (stagnasi).
perubahan ekonomi meliputi baik pertumbuhan statis atau menurunan pendapatan nasional riil. penurunan merupakan perubahan negatif, sedangkan pertumbuhan ekonomi merupakan perubahan positif (widjaja, 1997 : 264-265). lebih lanjut dinyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output per kapita. pertumbuhan ekonomi menurut definisi ini menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang. pertumbuhan ekonomi terjadi bila tingkat kenaikan output riil total lebih besar dari tingkat pertumbuhan penduduk.
di indonesia, biro pusat statistik melakukan perhitungan pertumbuhan ekonomi dengan menghitung produk domestik bruto (pdb) berdasarkan nilai barang dan jasa akhir menurut lapangan usaha atau sektor-sektor ekonomi, dengan menggunakan harga berlaku dan harga konstan pada tahun dasar tertentu. sektor ekonomi yang dimaksud adalah sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan, sektor ekonomi sekunder terdiri dari sektor industri dan bangunan, sektor tersier yang terdiri dari sektor perdagangan, restoran dan hotel; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor ulilitas yang terdiri dari listrik, gas dan air minum serta jasa-jasa.
menurut arsyad (1999 : 15-16) pendapatan nasional menunjukkan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai pada suatu tahun tertentu. sedangkan pertumbuhan ekonomi menunjukkan perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang terjadi dari tahun ke tahun. oleh karena itu, jika ingin mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi harus membandingkan pendapatan nasional dari tahun ke tahun. lebih lanjut dinyatakan bahwa perubahan nilai pendapatan nasinal dari tahun ke tahun bukan saja disebabkan oleh perubahan tingkat kegiatan ekonomi, tetapi juga oleh kenaikan harga-harga, sehingga untuk mengetahui apakah suatu perekonomian mengalami perkembangan, perlu ditentukan perubahan yang sebenarnya terjadi dalam kegiatan ekonomi dari tahun ke tahun. untuk mencapai tujuan tersebut, pengaruh perubahan harga-harga terhadap nilai pendapatan nasional pada berbagai tahun harus dihilangkan. hal ini dilakukan dengan cara menghitung pendapatan nasional menurut harga konstan. pengertian pendapatan nasional dibedakan menjadi dua yaitu : pengertian pendapatan nasional menurut harga berlaku (pendapatan nasional nominal) pada tahun yag bersangkutan dan pendapatan nasional menurut harga konstan (pendapatan nasional riil). pendapatan nasional riil dapat ditentukan dengan cara mendeflasikan pendapatan nasinal menurut harga berlaku yaitu dengan menilainya kembali berdasarkan atas harga pada tahun dasar tertentu (base year).
perubahan struktural merupakan pola-pola pembangunan “rata-rata” di berbagai negara . hipotesis utama dari model perubahan struktural adalah bahwa pembangunan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perubahan yang dapat diamati, yang ciri-ciri pokoknya sama di semua negara. model ini juga mengakui bahwa perbedaan dapat saja terjadi di antara satu negara berkembang dengan yang lain dalam hal langkah-langkah yang ditempuh serta pola umum pembangunannya, yang semuanya ditentukan oleh sejumlah faktor.
faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran proses pembangunan pada umumnya adalah jumlah dan jenis sumber daya alam yang dimiliki masing-masing negara, ketepatan rangkaian kebijakan dan sasaran yang ditetapkan pemerintah setempat, tersedianya modal dan teknologi dari luar, serta kondisi-kondisi di lingkungan perdagangan internasional (todaro, 2000 : 107).
kuznets menyatakan bahwa perubahan struktur atau perubahan transformasi struktur ditandai dengan adanya perubahan-perubahan prosentase sumbangan berbagai sektor-sektor dalam pembangunan ekonomi, yang disebabkan intensitas kegiatan manusia dan perubahan teknologi (lihat sukirno, 1985:79). lebih lanjut dinyatakan secara umum transformasi struktural biasanya ditandai dengan peralihan dan pergeseran kegiatan di sektor primer (pertanian dan pertambangan) menuju sektor produksi sekunder (industri, manufaktur dan konstruksi). akibat transformasi struktural akan menimbulkan perbedaan pada laju pertumbuhan dan produktivitas pada sektor-sektor yang bersangkutan. perubahan struktur dari pertanian ke industri, akan berpengaruh pada pdb dan pdrb, sumbangan sektor pertanian pada pdb dan pdrb akan semakin menurun, sebaliknya sumbangan sektor industri terhadap pdb dan pdrb semakin meningkat.
Tampilkan postingan dengan label pertumbuhan pdrb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertumbuhan pdrb. Tampilkan semua postingan
kerangka teori : produk domestik regional bruto (pdrb)
ada tiga macam pendekatan perhitungan pendapatan nasional, yaitu (a) pendekatan hasil produksi atau product approach; (b) pendekatan pendapatan atau income approach; dan (c) pendekatan pengeluaran atau expenditure approach. untuk menghitung produk domestik regional bruto (pdrb) dapat digunakan salah satu dari penghitungan pendapatan nasional yaitu dengan pendekatan pengeluaran. pendekatan pengeluaran digunakan untuk menghitung nilai barang dan jasa yang dikeluarkan oleh berbagai golongan dalam masyarakat, dengan persamaan sebagai berikut:
pdrb = c + i + g + (x - m)
dimana c adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga, i adalah pembentukan modal, g adalah pengeluaran pemerintah, dan (x - m) adalah selisih nilai ekspor dan impor. perlu disepakati bahwa i (investasi) dalam bidang produktif, sebenarnya terdiri dari investasi swasta (ip) dan investasi pemerintah (ig). g adalah pengeluaran pemerintah pada umumnya yaitu pengeluaran rutin pemerintah dan pengeluaran pembangunan di luar bidang produktif.
untuk mengukur pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah dapat diketahui melalui pendekatan model pertumbuhan neo klasik dengan memusatkan perhatian pada fungsi produksi cobb-douglas. menurut arsyad (1999:63) fungsi produksi cobb-douglas tersebut dapat dituliskan dengan cara berikut:
qt = tta kt ltb
dimana q = tingkat produksi, t = tingkat teknologi, k = jumlah modal, l = jumlah tenaga kerja, dan t = tahun tertentu.
menurut todaro (2000:115) ada tiga komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap negara, yaitu akumulasi modal, pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi. akumulasi modal (capital acccumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar ouput dan pendapatan di kemudian hari. akumulasi modal meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, modal atau sumber daya manusia. investasi produktif bersifat langsung tersebut harus dilengkapi dengan berbagai investasi penunjang ekonomi dan sosial berupa pembangunan infrastruktur. pembangunan infrastruktur tersebut meliputi jalan, penyediaan listrik, persediaan air bersih dan perbaikan sanitasi serta pembangunan fasilitas komunikasi.
ekonomi nasional dan ekonomi daerah berhubungan secara timbal balik, ekonomi nasional merupakan penjumlahan dari ekonomi daerah sedangkan ekonomi daerah adalah pemecahan ekonomi nasional menjadi ekonomi-ekonomi daerah. pemerintah daerah tidak akan membiarkan dinamika pertumbuhan ekonomi pasar terlalu bebas bekerja diwilayahnya. pemerintah daerah akan terus bertindak secara aktif untuk meraih dan menarik dinamika pertumbuhan ekonomi dan modal ke wilayahnya dengan menyediakan infrastruktur yang lengkap.
pdrb = c + i + g + (x - m)
dimana c adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga, i adalah pembentukan modal, g adalah pengeluaran pemerintah, dan (x - m) adalah selisih nilai ekspor dan impor. perlu disepakati bahwa i (investasi) dalam bidang produktif, sebenarnya terdiri dari investasi swasta (ip) dan investasi pemerintah (ig). g adalah pengeluaran pemerintah pada umumnya yaitu pengeluaran rutin pemerintah dan pengeluaran pembangunan di luar bidang produktif.
untuk mengukur pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah dapat diketahui melalui pendekatan model pertumbuhan neo klasik dengan memusatkan perhatian pada fungsi produksi cobb-douglas. menurut arsyad (1999:63) fungsi produksi cobb-douglas tersebut dapat dituliskan dengan cara berikut:
qt = tta kt ltb
dimana q = tingkat produksi, t = tingkat teknologi, k = jumlah modal, l = jumlah tenaga kerja, dan t = tahun tertentu.
menurut todaro (2000:115) ada tiga komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap negara, yaitu akumulasi modal, pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi. akumulasi modal (capital acccumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar ouput dan pendapatan di kemudian hari. akumulasi modal meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, modal atau sumber daya manusia. investasi produktif bersifat langsung tersebut harus dilengkapi dengan berbagai investasi penunjang ekonomi dan sosial berupa pembangunan infrastruktur. pembangunan infrastruktur tersebut meliputi jalan, penyediaan listrik, persediaan air bersih dan perbaikan sanitasi serta pembangunan fasilitas komunikasi.
ekonomi nasional dan ekonomi daerah berhubungan secara timbal balik, ekonomi nasional merupakan penjumlahan dari ekonomi daerah sedangkan ekonomi daerah adalah pemecahan ekonomi nasional menjadi ekonomi-ekonomi daerah. pemerintah daerah tidak akan membiarkan dinamika pertumbuhan ekonomi pasar terlalu bebas bekerja diwilayahnya. pemerintah daerah akan terus bertindak secara aktif untuk meraih dan menarik dinamika pertumbuhan ekonomi dan modal ke wilayahnya dengan menyediakan infrastruktur yang lengkap.
Pajak Daerah Dan Pertumbuhan Ekonomi
Cepat Mendatangkan Duit Berlimpah
Dapatkan Info Lengkapnya dBC Network.
Sangat cocok utk Semua Kalangan
--------------------------------------------------------------Penelitian terhadap efek-efek struktur fiskal oleh Miller dan Russek (1997), dengan latar belakang pendapat Helms tahun 1995, yang mengatakan bahwa peningkatan pajak secara signifikan menghambat pertumbuhan ekonomi jika pendapatan mendanai distribusi pendapatan, namun tidak demikian jika pendapatan mendanai jasa-jasa publik seperti jalan raya, pendidikan dan sarana keamanan umum. Kesimpulan penelitian tersebut, pajak akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi jika pendapatan mendanai pembayaran transfer (transfer payment) pemerintah, dan tidak akan berpengaruh secara negatif apabila pendapatan untuk mendanai jasa-jasa sektor publik.
Penelitian lain yang menjelaskan peranan sektor publik lokal dalam pertumbuhan ekonomi regional Korea dilakukan oleh Kim, adalah apakah pajak daerah dan pengeluaran daerah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi regional Korea. Teori yang mendasari penelitian Kim adalah penelitian Blooam (1995), Karlton (1979 dan 1983), yang tidak menemukan hubungan antara pajak dan pertumbuhan serta Kleine (1977), Grioson (1977 dan 1980), yang menemukan sebuah hubungan negatif. Terakhir seperti penelitian Helms (1985), hasilnya adalah bahwa pajak pusat dan pajak daerah secara signifikan menghambat pertumbuhan ekonomi ketika pendapatan untuk mendanai pembayaran transfer, dan ketika pendapatan untuk mendanai layanan publik memiliki pengaruh yang mendukung perekonomian daerah. Kesenjangan ekonomi regional pada dasarnya dijelaskan oleh kinerja sektor privat, dan sektor publik lokal memainkan peranan penting dalam mmpersempit disparitas ekonomi regional melalui pengumpulan pendapatan, investasi dan konsumsi pemerintah. Pertumbuhan ekonomi daerah pada umumnya digambarkan oleh pertumbuhan Produk domestik regional bruto.
Produk domestik regional bruto (PDRB) sebagai gambaran production originated artinya merupakan indikator yang menggambarkan kemampuan suatu daerah untuk menghasilkan pendapatan atau balas jasa suatu faktor produksi di suatu daerah. Produk domestik regional bruto atau produk domestik bruto yakni nilai total atas segenap output akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam suatu wilayah, pada umumnya dalam jangka waktu satu tahun (Todaro, 1997 : 38).
PDRB telah menjadi pendekatan model yang sering digunakan banyak negara sebagai tolak ukur tingkat kesejahteraan, ekonomi penduduk, sehingga ada kecenderungan pendapatan penduduk meningkat. Jika pendapatan penduduk meningkat, maka akan mengubah pola konsumsinya, dimana kelebihan dari seluruh pendapatannya setelah dikonsumsi, merupakan kekayaan tambahan. Mengkaitkan PDRB sebagai indikator sosial ekonomi masyarakat dengan pajak daerah terutama pajak yang berbasis pajak pendapatan, dilihat dari sisi penghasilan masyarakat bahwa penghasilan adalah semua penerimaan yang dapat menambah konsumsi dan meningkatkan kekayaan atau tabungan (Mangkoesoebroto, 1999 : 255).
PDRB dalam suatu daerah meliputi PDRB riil dan PDRB nominal. PDRB nominal adalah nilai atas dasar harga berlaku, sedangkan PDRB riil adalah nilai atas dasar harga konstan. Bila PDRB nominal dibagi dengan PDRB riil dan dikali dengan 100 persen maka akan diperoleh PDRB deflator atau lebih dikenal dengan indeks harga implisit. Indeks ini menggambarkan perkembangan harga-harga dari pendapatan agregat pada suatu waktu tertentu.
Kaitannya perkembangan harga ini dengan kemampuan membayar pajak oleh masyarakat suatu daerah adalah meningkatnya harga dari output yang dihasilkan berarti pendapatan kotor atau nilai dari ouput tersebut mengalami peningkatan dan dengan demikian akan meningkatkan pajak atas nilai output atau produk tersebut.
Dalam rangka meningkatkan output perlu melibatkan beberapa jenis input. Terkait dengan hal ini, meningkatnya suatu output yang dihasilkan oleh masyarakat akan cenderung meningkatnya penerimaan pajak daerah. Untuk meningkatkan output menggunakan banyak tenaga kerja. Pertambahan tenaga kerja yang beraktifitas pada suatu wilayah tertentu bermakna akan menambah jumlah produk atau output yang dihasilkan dan bertambah pula pajak yang dikenakan atas nilai produk tersebut.
Landasan Teori : Elastisitas Fiskal Daerah
Bisnis Untuk Anak Muda
Dapatkan uang saku jutaan / bln
Jadilah Anak Muda yang Kaya
-----------------------------------------------------Tingkat kegiatan ekonomi daerah berpengaruh terhadap basis pajak, dalam hal ini PAD, di masing-masing daerah. Tingkat ekonomi dapat diukur melalui indikator ekonomi, yaitu melalui pertumbuhan PDRB dan sektor-sektor kegiatan ekonomi yang berpengaruh memberikan sumbangan relatif besar terhadap PDRB tersebut. Semakin besar PDRB di suatu daerah semakin besar PAD di daerah tersebut. Seterusnya semakin tinggi pula derajat desentralisasi fiskalnya.
PDRB per kapita merupakan variabel yang mencerminkan seluruh kegiatan ekonomi di suatu daerah. Dalam hal ini sektor pertambangan dan migas tidak dimasukkan, karena hanya terdapat di beberapa daerah saja dan dikuasai oleh negara dan kecil pengaruhnya terhadap PAD.
Konsep elastisitas fiskal berkaitan erat dengan konsep flexibelitas sistem fiskal. Fleksibelitas melekat (built-in flexibility) merupakan salah satu hal yang penting dari aplikasi kebijakan stabilisasi. (Musgrave dan Musgrave, 1984 : 72).
Perubahan dalam pengeluaran dan penerimaan pemerintah (G dan T) akan mempengaruhi kegiatan ekonomi, baik melalui parameter fiskal, maupaun melalui perubahan secara otomatis atau fleksibelitas melekat. Demikian juga sebaliknya, perubahan dalam perekonomian yang tercermin dalam perubahan PDRB dapat mempengaruhi pengeluaran pemerintah.
Pembahasan tentang elastisitas, Chaudhry (1975) membedakan koefisien elastisitas berdasarkan berubah tidaknya struktur fiskal yang dianalisis. Apabila struktur fiskal tetap maka koefisien elastisitas disebut elastisitas melekat. Dalam hal ini, perubahan penerimaan pajak hanya dipengaruhi oleh perubahan PDRB. Apabila struktur fiskal berubah maka koefisien elastisitas dapat menjadi daya dukung penerimaan pajak (buoyancy of tax). Ini berarti koefisien elastisitas dipengaruhi oleh pajak dan perubahan PDRB.
Dalam menganalisis elastisitas (kepekaan) PAD terhadap PDRB adalah dengan menggunakan konsep koefisiensi elastisitas yang dapat mendukung perubahan PAD (buoyancy of tax). Dalam hal ini koefisiensi elastisitas dipengaruhi oleh perubahan PAD dan perubahan PDRB.
Elastisitas PAD di suatu dari terhadap PDRB di daerah tersebut merupakan salah satu cara untuk memdeteksi struktur pajak di suatu daerah atau suatu jenis pajak tertentu. Dengan diketahuinya elastisitas PAD dapat diketahui kepekaan perubahan pajak terhadap PDRB. Jika lebih besar atau sama dengan satu berarti tiap perubahan dalam PDRB sebesar satu persen akan mengakibatkan perubahan dalam penerimaan PAD lebih besar dari satu. Ini mengandung arti PAD daerah tersebut elastis, atau struktur pajak daerah tersebut kuat.