Teori Pembangunan Ekonomi


Pengertian Pembangunan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi
Pada umumnya para ekonom memberikan pengertian  sama antara pembangunan ekonomi dan pertumbuhan   ekonomi (Arsyad, 1997:11). Pembangunan dalam pandangan tradisional (Todaro, 1997:13-14), sering diartikan sebagai kapasitas dari ekonomi nasional yang ditunjukan dengan pertumbuhan Gross National Products (GNP) atau Gross Domestic Products (GDP).
Dalam pandangan yang lebih maju, pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai suatu perubahan yang direncanakan dari struktur produksi dan employment berdasarkan pendekatan sektor, misalnya sektor pertanian, sektor industri, sektor jasa dan lain-lain. Selanjutnya sejak dekade tahun 70-an, pembangunan ekonomi didefinisikan dalam sebuah pengertian sebagai upaya mengurangi atau menghilangkan kemiskinan, ketidakmerataan, dan pengangguran yang erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.

Teori Pertumbuhan Wilayah
Teori resources endowment. Teori resources endowment dari suatu wilayah menyatakan bahwa pengembangan ekonomi wilayah bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki dan permintaan terhadap komoditas yang dihasilkan dari sumber daya alam itu. Dalam jangka pendek sumber daya alam yang dimilki suatu wilayah merupakan suatu aset untuk memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan.
Nilai dari suatu sumber daya merupakan nilai turunan dan permintaan terhadapnya merupakan permintaan turunan. Suatu sumber daya menjadi berharga jika dapat dimanfaatkan dalam bentuk-bentuk produksi. Tingkat dan distribusi pendapatan, pola perdagangan, dan struktur produksi merupakan variabel-variabel yang mempengaruhi tingkat permintaan terhadap sumber daya wilayah.
Variabel-variabel itu dapat mengubah keuntungan relatif wilayah dalam memberikan masukan yang dibutuhkan perekonomian regional dan nasional. Teori resources endowment secara implisit mengasumsikan bahwa dalam perkembangannya, sumber daya yang dimiliki suatu wilayah akan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang berbeda bila terjadi perubahan permintaan. Penurunan relatif dari pentingnya bahan mentah pada nilai akhir suatu produk akan melemahkan kaitan antar sumber daya wilayah dan pembangunan ekonominya.
Teori export base. Teori export base atau teori economic base pertama kali dikembangkan oleh Douglas C. North pada tahun 1955. Menurut North, pertumbuhan wilayah jangka panjang bergantung pada kegiatan industri eksportnya. Kekuatan utama dalam pertumbuhan wilayah adalah permintaan eksternal akan barang dan jasa yang dihasilkan oleh eksport wilayah itu. Permintaan eksternal ini mempengaruhi penggunaan modal, tenaga kerja dan teknologi untuk menghasilkan komoditas ekspor. Dengan kata lain permintaan komoditas ekspor akan membentuk keterkaitan ekonomi, baik kebelakang (kegiatan produksi) maupun kedepan (sektor pelayanan). Strategi pembangunan daerah yang muncul didasarkan pada teori ini adalah penekanan terhadap arti pentingnya bantuan kepada dunia usaha yang mempunyai pasar baik secara nasional maupun internasional. Implementasi kebijakannya mencakup pengurangan hambatan terhadap perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor yang ada dan akan didirikan didaerah tersebut (Arsyad, 1999:116).

Peranan Komoditas Dalam Pertumbuhan Ekonomi Regional  
               Banyak pendekatan yang biasa digunakan untuk menganalisis peranan suatu sektor atau komoditas dalam pertumbuhan ekonomi regional antara lain Analisis Komposisi Ekonomi (Economy Competition Analysis) dan Analisis Basis Ekonomi (Economic Base Analysis) (Bendavid-Val, 1991:67-85). Dalam Analisis Komposisi Ekonomi kajian lebih ditekankan untuk melihat pangsa (share) dari masing-masing sektor atau komoditas terhadap pertumbuhan ekonomi regional, sedangkan Analisis Basis Ekonomi yang berpijak kepada teori basis ekonomi (Economic Base Theory), lebih mengarah kepada analisis penentuan sektor basis yang berorientasi ekspor sebagai basis perekonomian suatu wilayah. Urgensi dari analisis ini berangkat dari jiwa teori basis ekonomi yang berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan dari luar wilayah terhadap produk-produk yang dihasilkannya (Bendavid-Val, 1991:77).

Peranan suatu komoditas terhadap perekonomian rakyat         
Berkaitan dengan peranan suatu komoditas terhadap kegiatan ekonomi di sektor lain, Bendavid (1991:59) mengemukakan apa yang disebut dengan Production Linkage Investtigtions, yaitu suatu pendekatan yang digunakan untuk melihat keterkaitan-keterkaitan penting suatu komoditas dengan kegiatan ekonomi pada sektor-sektor lain. Secara garis besar dikemukakan dua bentuk keterkaitan produksi (productions linkages).
1.      Keterkaitan ke belakang (backward linkages), yaitu keterkaitan produksi dengan input yang dibutuhkan dalam proses produksi.
2.      Keterkaitan ke depan (forward linkages), yaitu keterkaitan dengan proses produksi lebih lanjut menuju barang jadi (siap jual).
Dalam proses selanjutnya dikemukakan pula     adanya dua macam keterkaitan lainnya yaitu            (a) keterkaitan pendistribusian (distribution linkages), dan (b) keterkaitan dengan sektor perdagangan      barang konsumsi dan jasa pelayanan. Di samping  pembagian tersebut, Bendavid (1991:141) membedakan jenis keterkaitan menurut kategorinya menjadi: (a) keterkaitan transportasi;(b) keterkaitan komunikasi; (c) keterkaitan sumber daya alam; (d) keterkaitan ekonomi; (e) keterkaitan sosial: (f) keterkaitan jasa pelayanan; dan (g) keterkaitan kelembagaan.